9 Nov 2017

5 Dokter Pahlawan Nasional yang Berjuang Untuk Kemerdekaan

5 Dokter Pahlawan Nasional yang Ikut Berjuang Untuk Kemerdekaan Indonesia

10 November disepakati sebagai hari pahlawan nasional untuk mengenang jasa para pejuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia, khusunya terkait dengan peristiwa pertempuran 10 november di surabaya yang diprakarsai Bung Tomo. Namun, selain pejuang yang tergabung dalam tentara dimasa perang kemerdekaan juga banyak profesi lain yang layak disebut sebagai pahlawan, salah satunya dokter.

Setidaknya ada 5 dokter yang cukup dikenal memiliki kontribusi dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan indonesia, bahkan diantaranya ada yang pernah merasakan hidup di dalam penjara sebagai tahanan perang.

Berikut 5 dokter yang menyandang gear pahlawan nasional

1. Soetomo
Sutomo adalah pemuda yang lahir pada tanggal 30 juli 1988 di surabaya, tepatnya desa ngepeh, ia merupakan salah satu tokoh yang mempelopori terbentuknya organisasi pemuda Budi Utomo (BU) berkat ide dr. Wahidin Soedirohusodo, pada saat itu Sutomo tercatat sebagai pelajar di STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen) atau Sekolah Pendidikan dokter Hindia.

Organisasi Budi Utomo dibentuk dengan tujuan kemajuan yang harmonis bagi nusa dan bangsa dengan cara memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, meningkatkan cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat.

Pada tahun 1911, Sutomo lulus dari STOVIA dan bertugas disemarang sebagai dokter, dan kemudian pindah tugas ke beberapa daerah hingga akhirnya bertugas di malang, salah satu prestasi saat bertugas sebagai dokter dimalang yaitu berhasil membasmi wabah pes yang pada saat itu melanda daerah magetan.

Sekembalinya dari belajar di belanda,  dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club (ISC) yang merupakan sekumpulan kaum terpelajara yang bekerja di surabaya, pada akhirnya ISC mempunyai pengaruh yang cukup luas di Indonesia.

ISC berubah menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) pada tahun 1931 dan berkembang pesat hingga pada kongres 1953 disurabaya terjadi fusi antara Budi Utomo dengan PBI hingga menghasilkan Partai Indonesia Raya (PARINDRA).

dr.Soetomo tidak hanya tokoh pahlawan nasional dalam sejarah pergerakan di indonesia, tetapi salah satu jasa yang tidak terlupakan yaitu dia tidak pernah menarik bayaran kepada orang miskin yang membutuhkan bantuannya, ia dengan sukarela membantu dan selalu siaga untuk rakyat indonesia.

2. Wahidin Soedirohusodo
Wahidi Soedirohusodo adalah salah satu tokoh pahlawan nasional sebagai penggagas utama berdirinya organisasi Budi Utomo, ia lahir di Sleman Yogyakarta pada tanggal 7 Januari 1852. Setelah lulus dari Europeesche Lagere School di Yogyakarta, ia melanjutkan belajar di sekolah pendidikan dokter hindia atau STOVIA di jakarta karena ketertarikannya dalam dunia medis.

Atas gagasan dr. Wahidin Soedirohusodo, pada tanggal 20 mei 1908 berdirilah sebuah organisasi Budi Utomo yang dibentuk oleh dr.Sutomo dan kawan-kawan STOVIA lainnya. Dengan terbentuknya Budi Utomo, dr,Wahidin Soedirohusodo berharap cita-cita kemerdekaan indonesia akan segera tercapai.

dr. Wahidin Soedirohusodo meninggal dunia pada usia 65 tahun dan dimakamkan di desa mlati yogyakarta, dan setiap tanggal 20 Mei di kenang sebagai hari kebangkitan nasional.

3. Radjiman Wedyodiningrat
dr. Radjiman Wedyodiningrat adalah anak angkat dr. Wahidin Soedirohusodo, ia disejolahkan di STOVIA atas biaya dr. Wahidin Soedirohusodo dan lulus pada tahun 1898 dengan gelar dokter jiwa. Setelah lulus dr.Radjiman Wedyodiningrat bertugas di Banyumas, Madiun, Purworejo dan Semarang, dan terakhir menjadi asisten di STOVIA kemudian lulus sebagai Indisch Arts.

Pada tahun 1909 ia melanjutkan pendidikan dokternya ke negeri belanda hingga menjadikan kedudukan dokternya setara dengan dokter-dokter belanda. Selain sebagai dokter jiwa, ia juga dokter spesialis bersalin dan penyakit kandungan.

Pada periode kepengurusan Budi Utomo 1914-1915 ia menjabat sebagai ketua dan membawa Budi Utomo di Volksraad  (Dewan Rakyat Masa Hindia Belanda) hingga tahun 1931. dr. Radjiman Wedyodiningrat merupakan salah satu pahlawan nasional yang berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia, ia tergabung dalam BPUPKI (Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

4. Tjipto Mangoenkoesoemo
Tjipto Mangoenkoesoemo atau lebih dikenal dr. Cipto Mangunkusumo merupakan salah satu pahlawan nasional yang dijuluki tiga serangkai bersama Kihajae Dewantara dan Ernest Douwes.

Tjipto bukan berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi, tetapi karena kecerdasannya, ia mampu bersekolah di STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Karena ketidakpuasannya terhadap peraturan di STOVIA serta keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat Indonesia di bawah jajahan Belanda, membuat dirinya aktif menuangkan segala pemikiran dan kritisinya dalam harian De Locomotief sejak tahun 1907.

Ia juga menyebarkan pandangan-pandangannya yang sarat akan nilai-nilai politik dengan bergabung dalam organisasi Budi Utomo. Tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Budi Utomo karena adanya perpecahan ideologi dalam tubuh organisasi tersebut.

Pada tanggal 25 Desember 1912 bersama Kihajar Dewantara dan Ernest Douwes Dekker, ia mendirikan Indische Partij yang merupakan organisasi satu-satunya yang secara terang-terangan bererak dibidang politik dengan tujuan indonesia merdeka. Pada tahun 1914 ia bergabung dengan Insulinde, suatu perkumpulan yang menggantikan Indische Partij yang kemudian berubah nama menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP).

Ia menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) bentukan Belanda pada tahun 1918 dan pada akhirnya ia memanfaatkannya sebagai tempat untuk menyatakan aspirasi dan kritik kepada pemerintah mengenai masalah sosial dan politik. Karena dianggap berbahaya, pemerintah Hindia Belanda pun membuang Tjipto ke Bandung dan bertemu dengan Soekarno di Bandung.

Pada tahun 1928 ia dibuang ke pulau Banda karena didakwa terlibat dalam pemberontakan komunis, karena kesehatan yang terus memburuk akhirnya dikembalikan ke pulau jawa.

5. Moestopo
Prof. DR. Moestopo adalah salah satu pahlawan nasional yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan, ia lahir pada 13 juli 1913 di Ngadiluwih Kediri Jawa timur, selain sebagai dokter gigi dan akademisi, pahlawan nasional yang satu ini juga merupakan seorang tokoh militer PETA (pembela tanah air) yang merupakan kesatuan militer bentukan jepang.

Moestopo memperoleh gelar dokter gigi setelah menempuh pendidikan di STOVIT (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi) surabaya dan selanjutnya mengikuti pendidikan Orthodhontle di surabaya dan UGM yogyakarta. Setelah itu ia juga melanjutkan pendidikan Oral Surgeon di fakultas kedokteran UI jakarta serta di Amerika dan Jepang.

Selain sebagai dokter gigi, karir militer dr.Moestopo juga cemerlang dan memiliki kontribusi yang cukup besar bagi kemerdekaan Indonesia, tercatat ia pernah menjabat sebagai kepala BKR karesidenan surabaya dan pada tahun 1945 menjabat sebagai penasehat agung militer presiden republik indonesia.

Selamat Hari Pahlawan Nasional 2017

Baca Juga :

kabarklinik.com ini dibuat atas ketertarikan dan minat kami pada bidang kesehatan dan sebagai wujud kepedulian kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia
Jika ada pertanyaan maupun saran yang terkait dengan tema artikel silahkan kirim komentar dibawah atau bisa melalui menu Kontak

Follow sosial media kabarklinik berikut


EmoticonEmoticon