4 Des 2017

Imunisasi DPT untuk Mencegah Wabah Penyakit Difteri

Lakukan Imunisasi DPT untuk Mencegah Wabah Penyakit Difteri

Kasus wabah penyakit difteri pada anak meningkat tahun ini dibanding tahun sebelumnya, karena itu penting untuk mengetahui cara mencegah penyakit difteri. Beberapa provinsi di Indonesia melaporkan kasus luar biasa difteri yang berpotensi mengancam jiwa. Kasus ini harus jadi perhatian besar kementrian kesehatan (Kemenkes) maupun ikatan dokter anak indonesia (IDAI).

Penyakit difteri pada anak adalah penyakit menular yang terjadi karena adanya infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada tenggorokan dan hidung serta dapat menyerang kulit, jika tidak segera ditangani sangat berpotensi berujung kematian.

Gejala penyakit difteri pada anak umumnya ditandai dengan kondisi badan yang lemas serta demam tinggi, pada tenggorokan terbentuk lapisan berwarna abu-abu yang mudah berdarah, karena itu tenggorokan akan terasa sakit, suara serak hingga kesulitan bernafas. Pada beberapa kasus difteri menyebabkan luka pada kulit seperti borok yang bisa meninggalkan bekas setelah sembuh.

Bahaya Komplikasi Difteri

Penyakit difteri dapat menyebabkan komplikasi penyakit yang sangat berpotensi mengancam keselamatan jiwa, jika sudah terdapat tanda gejala difteri segera periksakan ke dokter agar tidak terjadi komplikasi.

Beberapa komplikasi yang dapat menyertai penyakit difteri diantaranya

1. Gangguan pernafasan
Toksin yang diproduksi bakteri difteri akan menyebabkan sel-sel mati dan membentuk membran yang menghambat pernafasan.

2. Gangguan jantung
Toksin yang diproduksi bakteri difteri juga dapat masuk ke jantung yang dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung, akibatnya detak jantung tidak teratur hingga mengalami gagal jantung.

3. Gangguan saraf
Toksin bakteri difteri dapat menyebabkan kelumpuhan pada diafragma atau disebut paralisis, sehingga pasien akan kesulitan bernafas.

4. Difteri hipertoksik
Komplikasi ini akan menimbulkan pendarahan serta gagal ginjal pada penderita difteri.

Cegah Penyakit Difteri dengan Imunisasi DPT

Pencegahan wabah penyakit difteri pada anak dapat dilakukan dengan cara pemberian imunisasi DPT (Difteri,Pertusis,Tetanus) pada balita sejak berumur 2 bulan sebanyak 5 kali dengan jarak penyuntikan 1-2 bulan, karena itu diharapkan masyarakat lebih tanggap dan mendukung saat lingkungannya diadakan ORI (Outbreak Response Immunization).

Imunisasi DPT sangat efektif sebagai cara mencegah penyakit difteri pada anak karena dapat memberikan kekebalan aktif pada penyakit difteri, pertusis serta tetanus. Setelah imunisasi DPT kemungkinan timbul demam, nyeri serta bengkak pada permukaan kulit sebagai efek samping imunisai DPT, efek ini akan sembuh hanya dengan memberi obat penurun panas.

Jika efek samping imunisasi DPT tidak segera sembuh dan terjadi demam tinggi hingga diatas 40 derajat celcius bahkan mengalami kejang hingga pingsan segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Untuk anak dibawah usia 7 tahun yang terlambat mendapatkan imunisasi DPT bisa dilakukan imunisasi kejaran sesuai petunjuk dokter, namun bagi anak yang berusia diatas 7 tahun akan diberikan vaksin Tdap (Tetanus and diphtheriatoxoids acellular pertussis).

Segelarah berikan imunisasi DPT pada anak-anak untuk melindungi anak dan mencegah serangan penyakit difteri pada anak seumur hidup.
Baca Juga : Tips Menjaga Kesehatan Anak Saat Menghadapi Ujian Sekolah
Cara mencegah difteri pada anak yang paling efektif yakni dengan pemberian imunisasi DPT secara lengkap sebanyak 3 kali sejak anak berumur 2 bulan,3 bulan, 4 bulan dan dilanjutkan dengan imunisasi ulang pada satu tahun setelah imunisasi ke 3 dan setelah umur 5 tahun.
Baca Juga: 4 Penyebab meningkatnya wabah difteri

Baca Juga :

kabarklinik.com ini dibuat atas ketertarikan dan minat kami pada bidang kesehatan dan sebagai wujud kepedulian kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia
Jika ada pertanyaan maupun saran yang terkait dengan tema artikel silahkan kirim komentar dibawah atau bisa melalui menu Kontak

Follow sosial media kabarklinik berikut


EmoticonEmoticon